Wednesday, July 6, 2011

Cerpen

ATAS NAMA “SELAMET”

By : Shaipul Ahsani

Suasana pasar tradisional yang ramai dengan transaksi para penjual dan pembeli, tiba-tiba pecah. Seorang wanita paruh baya, dengan tubuh sintal, rambut di cat merah, dan hidung mancung suntik silicon, berteriak minta tolong. “tolooong.... copettt.... copettt.....” nyaring, dan memekak kan telinga penjual bawang yang sedang melayaninya. Seorang laki-laki tegap, rambut lurus dengan potongan ala mandarin, langsung lari secepat nya, menyibak keramaian pasar pagi itu. dibelakang nya sudah puluhan orang mengejar. Ya... mereka memang sudah gerah dengan ulah copet satu ini. Selalu saja ber operasi di pasar, dan sewaktu hendak ditangkap, liciknya bukan main. Pencopet itu lari keluar dari pasar, kemudian masuk ke gang tikus. Sepertinya sudah hafal benar ia dengan jalan untuk melarikan diri. Atau bahkan memang sudah ia rencanakan sebelum beroperasi. Atau bahkan lagi, memang sepertinya sudah ada yang membuat rute untuk nya melarikan diri. Lagi-lagi ia selamat dari kejaran masa.

Yaaa.... Selamet. Selamet memang selalu saja selamat. “selamet” nama yang diberikan orang tuanya, bertujuan supaya ia selalu saja selamat. Memang kesampaian apa yang di doakan orang tua nya. “Selamet” adalah seorang pencopet yang meresah kan para pembeli dan pedagang di pasar itu. pernah juga waktu itu, seorang nenek tua yang bekerja sebagai kuli panggul pasar, jatuh pingsan dan dilarikan di rumah sakit, karena syok. Setelah uang yang niat nya untuk membayar sekolah cucunya, dicopet oleh selamet. Tapi selamet tidak menyesal. Bahkan ia sangat bangga, karena beritanya keluar di koran daerah dan menjadi topik utama. Setelah beritanya keluar dikoran, di kampung nya ia menjadi topik perbincangan ibu-ibu tetangga. Rumor, gosip, dan kehebatan selamet menjadi obrolan utama sampai hampir sebulan penuh. Seperti artis dadakan, selamet dipuja, disanjung, dan dicaci banyak orang. Tapi lebih banyak warga yang memujanya. Karena selamet adalah seorang pencopet yang ramah, santun, sekaligus pintar menyambunyikan masalah. Bagaiman tidak ramah, setiap ia bertemu anak kecil, entah itu anak dari tetangganya atau anak kecil yang tidak sengaja ditemuinya di jalan, ia selalu berbagi rejeki dari hasilnya mencopet.

Selamet adalah seorang yang ber pendidikan. Orang tuanya menyekolah kan selamet sampai ia mendapat gelar Master ekonomi. Ia juga pernah bekerja di perusahaan pemerintah yang bergerak di bidang perpajakan. Tapi ia mengundurkan diri. Ia sadar, bahwa sewaktu ia bekerja di kantor milik pemerintah itu, ia lebih sering berbohong untuk kepentingan atasanya, sebuah perusahaan, sebuah golongan, atau siapapun dengan dalih pembangunan dan kesejahteraan rakyat. Tapi kenyataanya bertolak belakang dengan semua itu. mulai saat itu, kemudian ia mengundurkan diri dan memproklamasikan bahwa dirinya sekarang adalah seorang pencopet.

Sebelum menjadi seorang pencopet pasar, ia lebih tekenal sebagai seorang pencopet yang exsklusif. Karena ia sering mencopet di acara-acara besar negara. Seperti saat final sepak bola melawan negara lain, final bulu tangkis di singapore, saat upacara kemerdekaan di istana negara, atau bahkan saat pernikahan anak seorang presiden. Karena itulah slamet bisa jalan-jaln ke berbagai pulau yang keindahanya sudah mendunia. Selamet juga sudah sering mencopet di gedung DPR. Saat rapat dewan dan ada anggota yang teridur, disitulah selamet mulai beroperasi, dan juga saat terjadi keramaian perbedaan pendapat dan bahkan sampai mengakibatkan para anggota dewan melempar kursi dan baku hantam. Saat itulah selamet menyusup di keramaian itu dan mencopet uang para anggota dewan.

Tetapi, setelah mengambil uang dari para anggota dewan. Selamet menyesal, menangis tersedu-sedu, bahkan sampai tidak doyan makan selama 1 minggu. Bagaimana tidak, sewaktu ia mengambil uang dari anggota dewan, sama halnya ia mengambil uang dari ratusan, atau bahkan ribuan rakyat yang telah memilih para wakilnya di dewan. Dan ia sadar, ia benar-benar menyesal telah mengambil uang milik ribuan rakyat. Karena itulah, marilah kita sebut selamet sebagai seorang pencopet yang ramah, santun, dan berbudi luhur. Dan Mulai saat itu, ia alih area menjadi seorang pencopet pasar. Karena ia lebih merasa nyaman. Saat mencopet di pasar, ia hanya mencopet uang milik seorang rakyat. Sangat jauh berbeda saat ia mencopet para anggota dewan. Yaa... selamet sekarang menjadi pencopet pasar. Hanya seorang pencopet pasar.

Seperti biasa, pagi hari selamet sudah berangkat ke pasar untuk menjalankan pekerjaanya. Dengan membawa nama “selamet” yang menjadi sugesti dalam hidupnya.” Pasar” sudah dianggap selamet sebagai kantor tempat ia bekerja. Tempat ia bisa menyapa para temanya, tempat ia bisa mendapatkan uang, dan tempat ia menggantungkan hidup sebagai seorang pencopet.

Pagi itu, tepat seperti apa yang dibayangkan selamet. “kliwon” yaa... pas pasaran, yang membuat suasana pasar menjadi semakin rame. Dalam benak selamet, ia harus bisa mendapatkan uang yang lebih daripada hari-hari biasanya. Di ujung lorong pasar, selamet melihat seorang ibu yang dandanan nya cukup perlente, dengan menjinjing tas merk “HUGOS” KW 2 sepertinya. Selamet menunggu kelengahan ibu itu. benar juga, ibu itu menaruh tas nya di tumpukan jahe. Sedangkan ia baru membeli cabe rawit di sebelah nya. Langsung saja dengan cepat, selamet menyambar tas itu dan langsung melarikan diri. Selang beberapa detik, terdengar teriakan nyaring dan masih saja memekak kan telinga. “”toloooong...... copeettt...... jambreeeetttt..... coooppeeeetttt.... ituuu... ituuuu.... cooppeeettt..... toloooong.....”. puluhan orang langsung mengejar selamet. Selamet keluar dari pasar, dan masuk ke gang tikus tempat ia biasa melarikan diri. Tapi malang, di depan gang, seorang aparat sudah menghadangnya. Sepertinya orang-orang sudah hafal jalur selamet untuk melarikan diri. Sehingga orang-orang sudah menyiapkan aparat di depan gang. Atau bahkan, selamet dijebak oleh teman-temanya sendiri, yang iri karena selamet selalu selamat dari kejaran orang-orang. Selamet menyerah, dan ia di tangkap aparat, di bawa kekantor, dan dijebloskan ke bui. Tapi, selamet masih selamat dari hajaran masa yang tidak berprikemanusiaan.

Selang tiga hari dari peristiwa itu, selamet dihadapkan di meja hijau. Dan dituntut hukuman gantung atau tembak mati, karena sudah terlalu sering membuat resah para pedagang dan pembeli di pasar. Gilaaaaa...... hanya karena mencopet uang puluhan ribu, selamet dituntut dengan sangat tidak logis. “pengadilan macam apa ini” selamet berteriak lantang sebagai orang yang berpendidikan. Tapi jaksa penuntut tidak mau tahu, karena jaksa penuntut sudah tahu treck record seorang selamet sebelum ia menjadi pencopet pasar. Dan Ia tetap menuntut selamet dengan hukuman mati. Karena sudah terkuak semua kebusukan selamet. Akhirnya selamet membayar seorang pengacara untuk membelanya. Setelah mengalami perdebatan yang sangat rumit di persidangan itu. dengan pembelaan, alibi, dan segala macam cara. Salah satunya memberi amplop pada sang hakim. Selamet cukup beruntung. Selamet hanya di vonis 8 tahun penjara. Sebagai orang yang berpendidikan, itu dirasa masih tidak logis menurut selamet. Tapi selamet menerimanya, dan tidak menginginkan naik banding. Karena tabungan selamet dari mencopet selama ini sudah habis untuk membayar pengacaranya. Sedangkan biaya untuk naik banding, tidak bisa ia bayar dengan hanya bekerja sebagai seorang pencopet pasar saat ini. Akhirnya selamet di jebloskan ke dalam bui.

Dari dalam bui, selamet masih bisa tertawa dan berkata, “ayah.... terima kasih atas nama SELAMET yang kau berikan, ternyata saat ini aku masih bisa selamat dari hukuman mati”. SELAMAT..... selamet.... masih tetap saja SELAMAT..... dan selamet, masih tetap seorang selamet.

No comments:

Post a Comment